Berita
Bimbingan Tarwiyah dan An-Nabawiyah Bersama Al-Habib Muhammad bin Hasan Al Jufri LPI Al Azhaar
Tanggal : 09/22/2025, 11:02:44, dibaca 154 kali.
Al Azhaar, 8 September 2025 – Pondok Pesantren Al Azhaar menggelar acara istimewa berupa Bimbingan Tarwiyah dan An-Nabawiyah bersama Al-Habib Muhammad bin Hasan Al-Jufri, salah satu alumni pertama dari Al-Habib Umar bin Hafidz, sekaligus Imam dan Khatib Masjid Al-Fath Mukalla serta pengasuh Ma’had Al-Khoiroot.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ustadz Abidin selaku MC, yang mengajak seluruh asatidz dan peserta untuk bersama-sama membaca Surat Al-Fatihah demi kelancaran acara. Suasana khusyuk semakin terasa saat pembacaan dzikir jama’i yang dipimpin oleh Ustadz Thoha.
Sebelum memasuki sesi inti, KH Imam Mawardi selaku pengasuh Pondok Pesantren Al Azhaar memberikan sambutan hangat sekaligus pengantar tentang sosok Al-Habib Muhammad bin Hasan Al-Jufri. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendalami penerapan konsep Tarwiyah An-Nabawiyah, yaitu metode pendidikan dan pengajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Makna Guru dalam Tarwiyah An-Nabawiyah
Dalam penyampaiannya, Al-Habib Muhammad bin Hasan Al-Jufri menekankan bahwa derajat seorang guru dalam Islam sangatlah tinggi, terlebih lagi guru yang mampu menggabungkan antara pendidikan (tarbiyah) dan pengajaran (ta’lim). Menurut beliau, hubungan spiritual antara guru dan murid adalah inti dari keberhasilan sebuah pendidikan.
"Kalian semua adalah guru ruh, bukan hanya guru jasad. Kalian mendidik ruh, bukan sekadar mengajarkan pengetahuan duniawi," tegas beliau.
Al-Habib juga menjelaskan bahwa seorang guru ruh memiliki kedudukan yang lebih mulia daripada orang tua jasmani, sebab jasad akan hancur, sementara ruh akan terus hidup. Maka tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menumbuhkan dan menghidupkan ruh keimanan dalam diri murid.
Menumbuhkan Ruh Iman Santri
Al-Habib mengingatkan bahwa setiap anak Adam telah diberi Allah potensi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, seringkali potensi itu tertutupi oleh dosa dan lingkungan. Di sinilah peran penting guru: membangkitkan kembali ruh iman tersebut.
Dalam menjelaskan metode pendidikan, Al-Habib menyampaikan dua pendekatan utama dalam pengajaran akhlak:
-
Memberi teladan langsung di hadapan murid, dan
-
Menyampaikan ajaran melalui kitab-kitab tasawuf dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW tidak menghapus karakter asli para sahabat, melainkan menghidupkannya menjadi kekuatan. Seperti kelembutan Sayyidina Abu Bakar dan keberanian Sayyidina Umar yang justru dipupuk, bukan diubah. Maka guru seharusnya mengenali karakter muridnya dan menumbuhkannya tanpa memaksakan perubahan yang mematikan jati diri mereka.
"Tugas kita sebagai guru adalah menumbuhkan ruh iman dari setiap santri," pesan beliau.
Guru: Penanam Benih Akhlak dan Keimanan
Al-Habib Muhammad bin Hasan Al-Jufri menutup tausiyahnya dengan doa dan harapan agar para pendidik senantiasa diberi kekuatan untuk menjadi penanam benih akhlak dan iman di hati para santri. Beliau mengibaratkan pendidikan sebagai biji yang ditanam di tanah yang subur. Jika biji itu ditanam dengan baik, maka akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dalam iman dan akhlak.
"Betapa beruntungnya seorang guru yang bisa menjadikan muridnya orang yang beriman dan berakhlak baik," pungkas beliau.
Acara yang sarat hikmah ini menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi para asatidz dan santri di Pondok Pesantren Al Azhaar untuk terus menghidupkan pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai kenabian.
Kembali ke Atas
Berita Lainnya : |
| Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas |
Komentar :
Kembali ke Atas

Total Hits
Hari ini
Member Online